Hikmah yang Bisa di Ambil dari The Panama Papers Menurut Telkomtelstra

Hikmah yang Bisa di Ambil dari The Panama Papers Menurut Telkomtelstra

Terkuaknya jutaan dokumen rahasia dalam peristiwa yang dinamakan The Pannama Papers sangat menggemparkan dunia beberapa waktu yang lalu. Banyak tokoh dari beberapa negara terseret dalam peristiwa ini karena nama mereka termasuk didalamnya.

“Walaupun peristiwa ini tidak terlalu berpengaruh pada Indonesia, negara kita harus banyak belajar dari peristiwa ini. Dasar dari terkuaknya data-data penting adalah karena perusahaan tidak pernah berpikir jauh jika cyber-security adalah investasi bukan sekedar biaya besar yang harus dikeluarkan dalam berbisnis,” kata Founder Indonesia Cyber Security Forum (ICSF), Ardi Sutedja saat di temui di kantor Telkomteltra.

CEO Telkomtelstra, Erik Meijer yang juga hadir pada kesempatan tersebut juga mengungkapkan hal senada “The Panama pers menjadi keberuntungan bagi Indonesia untuk memperbaiki sistem keamanan yang dimiliki dan peristiwa ini juga dapat menggiring kesadaran bagi seluruh stakeholder di tanah air, mulai dari perusahaan hingga pemerintahan, agar keamanan data bukan lagi masalah yang sering diabaikan”.

Beberapa hal yang dapat dilakukan untuk antisipasi dan pencegahan

Dalam forum tersebut, Erik dan Ardi mengungkapkan pencegahan kebocoran data dapat di lakukan oleh perusahaan dengan melakukan beberapa hal.

Yang pertama dengan melakukan audit sistem data perusahaan secara berkala, menekankan edukasi kepada perusahaan mengenai penanaman investasi seperti memberikan pemilihan dan pelatihan sumber daya manusia atau sdm yang sesuai.

Dengan adanya edukasi tersebut, saat adanya kebocoran dapat langsung ditangani karena tersedianya sdm yang mumpuni. Terakhir, melakukan Security control yang bertujuan untuk memantau network security posture.

Ini artinya bahwa networking atau dalam kata lain jaringan perusahaan harus siap setiap waktu mengingat serangan bisa terjadi kapan saja dan dimana saja. Disarankan memasang solusi Data Loss Prevention (DLP) dan Next Generation Firewall (NGF) untuk mengamankan data.

Implementasi pengamanan seperti ini harus dikerjakan secara profesional untuk memastikan keefektifannya. Cara paling efektif dan efisien adalah dengan memindahkan data suatu perusahaan ke dalam cloud provider yang terpercaya, seperti halnya Telkomtelstra.

Bukan hanya perusahaan besar yang harus waspada

Kemudian Ardi menjelaskan, resiko pencurian data tidak hanya pada perusahaan besar saja, banyaknya bisnis di bidang teknologi di Indonesia juga dinilai memiliki resiko untuk dicuri datanya.

Sayangnya, 50% dari pemimpin startup merasa bahwa keamanan data pengguna tak menjadi sebuah prioritas, karena mereka ingin fokus pada pengembangan produk. Padahal ada banyak cara yang dapat untuk mencegah resiko pencurian data, startup sangat di sarankan untuk melakukan sharing risk pada sistem.

Karena investasi untuk cyber security termasuk mahal maka, startup lebih disarankan untuk menggunakan sistem dari perusahaan besar yang telah menyediakannya.

Berkonsultasi dengan vendor penyedia keamanan data juga sangat disarankan agar dapat menambah pengetahuan dan mencegah kebocoran data perusahaan dengan lebih baik.

Terlebih kebocoran data akan membuat bisnis yang telah dirintis dapat hancur seketika. Sehingga bisa dipastikan hal tersebut akan memakan dana yang besar daripada pada saat melakukan pencegahan.

Selain itu, tidak hanya perusahaan-perusahaan saja yang harus berhati-hati, media sosial yang sampai saat ini masih sangat populer di Indonesia juga dapat memberikan dampak negatif. Setiap orang harus melakukan pencegahan.

Dengan memberikan banyak informasi pribadi di media sosial akan lebih memudahkan orang yang memiliki niat jahat. Beberapa kasus pernah terjadi karena pengguna media sosial kurang menjaga privasi mereka.

Berhati-hati dalam melakukan posting informasi di media sosial dapat memberikan proteksi diri dari penyalahgunaan informasi tersebut dikemudian hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *